POSTED: 22 Agustus 2018

Berbagai jenis usaha sudah pernah ditekuni Lincoln Kartiko, warga Surabaya. Mulai dari usaha besi, kayu, minuman saset dan lain-lain. Semuanya berakhir gagal.  Hingga akhirnya tahun 2006, meski Lincoln yang sudah memasuki usia hampir 60 tahun  beralih usaha produksi tepung bumbu. Alhasil, usaha tepung bumbu dengan merek Kiani tidak hanya laris di sekitar Kota Surabaya tapi menembus wilayah Indonesia Timur seperti Ambon, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Lincoln adalah salah satu dari ratusan UKM anggota Bogasari Mitra Card (BMC) yang beruntung. Pada pengundian Gelegar Hadiah BMC Tahap 1 yang berlangsung di Surabaya, Sabtu (11/8/2018) lalu, namanya disebut sebagai satu dari 5 pemenang hadiah utama paket umrah atau wisata rohani sejenis.

Lincoln dan istrinya, Ratnawati Budiharjo mengaku tidak menyangka mendapatkan hadiah utama dari Bogasari. “Jujur kami memang tidak menyangka mendapat paket perjalanan wisata rohani. Bahkan suami sempat menyuruh untuk tidak menggubris info itu karena dulu kami pernah tertipu undian serupa dari salah satu bank dan kami sempat menyetorkan sejumlah uang. Tapi, setelah pihak Bogasari meyakinkan kami kalau ini bukan penipuan, kami sangat bersyukur sekali,” ungkap Ratna, wanita kelahiran Semarang, 24 Maret 1959 ini.

Lincoln melanjutkan, ide usaha tepung bumbu muncul dari teman dekatnya bernama Harto. Pertimbangannya karena masih sedikit pelaku usaha tepung bumbu di wilayah Surabaya. Di sisi lain, masyarakat cenderung ingin dimudahkan dalam menghasilkan masakan gorengan yang renyah. Tidak perlu repot membuat bumbu sendiri. “Saat akan menggoreng ayam goreng misalnya, tak perlu repot meracik sendiri dari terigu, telur, mentega, dan gula. Karena itulah saya memutuskan tepung bumbu instan,” ucap Lincoln.

Lincoln yang memang gemar meracik resep, belajar membuat tepung bumbu dari internet. Sekitar 3 bulan ia terus mencoba hingga akhirnya menemukan racikan yang pas. Lalu ia menawarkan kepada teman-temannya, tetangga, dan saudaranya untuk mencobanya. Mendapat respon positif, ia dan Harto pun mulai memasarkan ke masyarakat luas dengan target utama ibu rumah tangga.

Kesuksesan usaha Lincoln tidak lepas dari jiwa dagang yang diwariskan ayahnya. Pria yang bernama asli Kwie Kwee Ek Ling ini adalah kelahiran Tiongkok, 15 Oktober 1948. Kwie Kwee Ek Ling atau Lincoln dan 4 saudaranya dibawa orangtuanya mengungsi ke Indonesia setengah abad lebih yang lalu, saat Tiongkok sedang dilanda kekeringan yang amat parah. Dan di era itu, tidak sedikit warga Tiongkok mengungsi ke berbagai negara lain termasuk Indonesia untuk melanjutkan hidup.

Saat masuk ke Indonesia, orangtuanya hanya  jualan kembang gula untuk menghidupi keluarga. Dan Lincoln kecil yang masih berumur 5 tahun setiap harinya membantu orang tuanya berjualan. Ia bersama kedua kakaknya keliling  ke pasar-pasar.  Sejak kecil sudah diajari dagang dan pantang menyerah. Wajar kalau Lincoln kini merasakan manfaatnya. 

Saat mau buka usaha tepung bumbu, ia meminjam modal kepada pamannya untuk membeli mesin pengaduk dan mesin press kemasan. Di pabrik berukuran 5x5 meter, Lincoln dengan 3  pegawainya mulai rutin produksi dengan memakai terigu Lencana Merah.  “Kian Nikmat” adalah merek tepung bumbu crispy produksi Lincoln dan sejak tahun 2018 disingkat jadi Kiani. Gurih, Renyah dan Berselera adalah tagline dari tepung bumbu crispy Kiani.

Setelah berjalan 5 tahun, Lincoln berhasil memperluas pabriknya yang di Bulak Rukem Timur I No. 160, Surabaya Utara menjadi ukuran 15 x 50 meter. Mesin produksi yang digunakan juga lebih modern dan karyawannya bertambah jadi 10 orang. Dalam sebulan, tepung bumbu KiaNi menghabiskan 2,5 sampai 3 ton terigu Bogasari untuk menghasilkan masing-masing 2 ribu bumbu kemasan dengan ukuran 400 gram, 900 gram, dan 5 kilogram.

Saking nikmatnya, pemasarannya pun meluas sampai ke Ambon, NTB dan NTT.  “Sebenarnya tidak ada bumbu rahasia dari resep yang saya buat, yang ada hanyalah tangan-tangan yang andal saat meracik. Dan istri saya Ratnawati Budiharjo, yang sangat membantu mengenalkan brand tepung bumbu Kiani ke kota-kota di luar Surabaya,” ungkap ayah dari 2 anak ini.

Semula target Kiani hanya hanya pasar-pasar tradisional dan ibu rumah tangga. Tapi kini sudah merambah ke pengusaha ayam goreng. Di wilayah Surabaya, banyak pengusaha ayam goreng gerobakan yang menggunakan tepung bumbu Kiani.  Saat ini, Lincoln juga memproduksi bumbu ketumbar dan lada putih dalam bentuk saset. Termasuk minuman herbal sase dengan bahan susu telur dan jahe. (DIK/RAP)

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Artikel Berhubungan