POSTED: 06 April 2018
Masa-masa sulit yang begitu berat sudah pernah dirasakan Heny. Betapa tidak, ketika kondisi sudah benar-benar jatuh, teman yang mau diajak kerja sama bisnis pun tidak ada. “Tapi saya bersyukur, karena Tuhan sudah mempunyai rencana untuk saya,” ujar Heny, pemilik ‘Gosyen Bakery’ Surabaya.
 
Gosyen Bakery berdiri sekitar 7 tahun silam. Tepatnya 23 Mei 2011, di ruko Tidar, Jalan Tidar Surabaya. Sebelumnya, ia hanya berjualan wingko babat dan kripik Heny. Beruntung suami bekerja kantoran sehingga ada penghasilan bulanan yang sudah pasti. Kendati demikian ia tetap tak mau menyerah atau lekas berpuas diri.
 
Heny pun memutuskan untuk mengikuti pelatihan di Bogasari Baking Center (BBC) Surabaya pada tahun 2010. Jiwa usahanya merasa terus ditantang untuk merintis usaha baru. Tidak sedikit materi pelatihan di BBC Surabaya yang ia ikuti. Tak lama berselang, Heny pun memutuskan untuk membuka usaha roti. “Saya harus bisa membuat roti yang baik dan sempurna,” tekadnya saat itu.
 
Baginya berlatih BBC tidak sekadar belajar resep. Tapi juga tata cara membuat makanan berbasis terigu yang benar dan ilmu marketing. Hasilnya, berbagai jenis makanan berhasil diciptakan. Di awal produksi, Gosyen Bakery menghabiskan sekitar 15 kg terigu setiap harinya untuk semua jenis roti.
 
Menekuni usaha pastinya tidak selamanya lancar. Di awal-awal usahanya, Heny bahkan tak kuasa menahan air mata setiap kali produk rotinya banyak yang tidak laku. Beruntung sang suami tercinta, Riki Junaedi setia menyemangati istrinya. Wanita berusia 54 tahun ini berusaha memutar otak, mencari cara agar produk rotinya disukai orang. Ia membuat brosur sederhana yang kemudian disebarkan di tempat-tempat umum dan sering dikunjungi banyak orang.
 
Puji Tuhan toko saya mulai dikenal,” ucap Heny. Dengan brosur sederhana, ternyata pasar bisa dan mau menerima roti buatannya. Penjualan melalui pesanan pun mulai mengalir. Melihat istrinya mulai kewalahan menjalankan usaha, Riki pun memutuskan berhenti bekerja dari kantornya. Pria berusia 55 tahun yang ahli di bidang akunting dan teknologi informasi ini, berkonsentrasi sepenuhnya mengembangkan Gosyen Bakery bersama istrinya.
 
Gosyen Bakery pun terus bertumbuh. Produk jualannya pun semakin bervariasi. Mulai dari roti, donat, cookies, hingga almond crispy dan masih banyak lagi. Variasi produk Gosyen Bakrey saat ini lebih dari 15. Wilayah pemasarannya pun sudah merambah kemana-mana. Tidak hanya Surabaya, tapi juga Malang, Jogja, Bali, bahkan Bogor dan Bandung.
 
Untuk tetap menjaga kualitas produk, Gosyen Bakery tidak pernah berani memakai terigu lain selain produk Bogasari. Pemegang kartu Bogasari Mitra Card (BMC) kategori Silver ini tetap setia memakai terigu Segitiga Biru dan Cakra Kembar. Baginya, Bogasari lebih dari sekadar produsen terigu tapi menjadi sumber inspirasi usaha melalui pelatihan BBC. Heny bahkan cukup sering mengirimkan karyawannya berlatih di BBC setiap ada resep baru atau pengembangan dari resep yang lama.
 
Satu hal yang diterapkan Heny dan suaminya untuk menjaga kelangsungan usaha adalah prinsip bahwa bukan hanya pelanggan yang harus dihargai, tapi juga karyawan. “Kami memperlakukan mereka seperti layaknya teman dan dengan pendekatan kekeluargaan. Dengan demikian karyawan dapat bekerja dengan nyaman, sungguh-sungguh, dan hasil kerjanya maksimal,” ucap ibu dari 3 anak ini.  
 
Dua dari 3 anaknya sudah selesai kuliah dan sudah bekerja. Namun belum ada yang terjun di usaha bakerynya. Namun ia merasa, anak yang nomor 3 sepertinya siap meneruskan usaha Gosyen Bakery karena saat ini sedang mengambil perkuliahan di jurussan pariwisata dan perhotelan. “Semoga si bungsu siap melanjutkan usaha kami ini,” harap Heny. (REM/RAP)
 
0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Artikel Berhubungan