POSTED: 04 Mei 2018
Ungkapan pepatah "usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil" memang benar adanya. Sukardi, pria kelahiran Jombang 37 tahun lalu berhasil membuktikannya lewat usaha roti bermerek Banana Bread Shop. Ia merangkak dari bawah. Mulai dari sebagai karyawan, jualan mie ayam, soto, dan bakso, hingga akhirnya menjadi juragan roti di Dusun Weru, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang.
 
Dalam menjalankan usahanya, Sukardi tidak hanya mencari untung. Di tengah kegigihan berusaha, suami dari Lisda (33) ini juga punya kepedulian dan kepekaan sosial yang tinggi. Apalagi Dusun Weru tempatnya berusaha dulunya dikenal sebagai tempat lokalisasi. Ia tidak merasa risih, tapi malah seolah tertantang berbuat lebih. Sebagian besar karyawannya adalah anak dari para mantan pekerja seks komersial (PKS), mantan pemabuk, bahkan ada juga yang mantan penjudi.
 
“Saya merasa bangga dan bahagia bisa membantu saudara-saudara kita yang mungkin dicibir atau dijauhi masyarakat. Saya juga sempat mendapat cibiran karena mempekerjakan mereka. Tapi saya tidak mau ambil pusing, karena apa yang saya lakukan adalah kebaikan. Memberi kesempatan hidup layak bagi orang yang membutuhkan,” tutur ayah dari Ali Sayati Rohman ini.
 
Boleh jadi apa yang dilakukan Sukardi karena sudah merasakan bagaimana rasanya hidup susah. Sedangkan pilihan usaha roti tidak lepas dari masa lalunya saat membantu kakaknya bisnis roti “King Banana” di Ibukota Jakarta. Selama hampir 1 dasawarsa, dari tahun 2000 sampai 2010 Sukardi menjadi karyawan roti King Banana.
 
Ibarat pepatah, sambil menyelam minum air. Selama 10 tahun sebagai karyawan, Sukardi pun mendalami ilmu di bidang produksi roti. Tahun 2011, ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya, Jombang tapi tidak langsung buka usaha roti.
 
Ia sempat dagang bakso, lalu soto ayam dan mie ayam. Karena tidak berkembang, Sukardi mulai putar otak, apalagi setelah melihat  tradisi masyarakat Jombang menyajikan roti kepada tamu di setiap acara pernikahan. Masa lalunya sebagai karyawan roti di toko kakaknya mulai teringat kembali.
 
Setelah memperoleh pinjaman modal Rp 1,6 juta dari sang kakak, Sukardi pun merintis usaha rotidi Dusun Weru. Awalnya ia hanya menitipkan roti buatannya ke warung-warung di sekitar tempat tinggalnya. Jenis roti buatannya saat itu pun hanya roti manis pisang keju coklat. Harga jualnya pun cukup murah, Rp 1.800 per bungkus. Alat-alat yang digunakan untuk membuat roti pun masih manual. Tidak ada mixer, apalagi oven canggih.
 
Tahun 2014, seteklah 3 tahun berjalan, usaha roti miliknya pun semakin membuahkan hasil. Oven impiannya pun dapat ia beli. Produknya semakin dikenal banyak orang. Apalagi setelah mencipatakan varian roti baru yang selalu mengikuti tren yang ada di masyarakat. Sebut saja roti boy ataupun roti abon.
 
Tahun 2016, akhirnya Sukardi resmi menggunakan merek untuk produksi rotinya yakni “Banana Bread Shop”. Jombang menjadi kota pertamanya membuka gerai toko dan sejak itulah mulai kebanjiran pesanan. Sukardi pun mulai menambah karyawan. Di saat itulah ia mulai memberdayakan masyarakat sekitar sebagai karyawan produksi. Mulai dari pemuda yang dulunya suka mabuk-mabukan, bermain judi, hingga yang orangtuanya mantan PSK.
 
Alhasil, ia mengajak masyarakat yang ada disekitar usahanya untuk menjadi karyawan. Anak dari mantan PSK, mantan pemabuk, bahkan mantan penjudi pun ia ajak untuk bergabung. Ya, Dusun Weru merupakan kawasan eks lokalisasi.
“Saya ingin mengubah citra Dusun Waru yang dulunya terkenal sebagai kawasan eks-lokalisasi, menjadi kawasan pengusaha yang berkembang,” ucap kata Sukardi.
 
Ia sangat prihatin dengan kondisi masyarakat sekitar usahanya. Ia sangat ingin membantu para masyarakat dengan mempekerjakannya sebagai karyawan. Alhasil, para karyawannya tersebut tidak hanya terampil  membuat roti, tapi ada yang akhirnya membuka usaha sendiri.
 
Bagi Sukardi, karyawan sebanyak 40 orang adalah aset. Mereka tidak hanya mendapat upah sesuai UMR, tapi juga mendapat tempat tinggal berupa mess karyawan. Karyawan juga mendapat pasokan makanan 3 kali sehari di luar gaji. Dengan kondisi yang nyaman, Sukardi yakin karyawannya mampu memproduksi 17.000 roti setiap hari dengan jumlah 20 varian rasa.
 
Untuk memproduksi belasan ribu roti tersebut, anggota Bogasari Mitra Card (BMC) ini menghabiskan 15 sak terigu Cakra Kembar setiap bulannya. Di awal tahun 2018 ini, Sukardi baru saja membuka gerai kedua di daerah Kediri. Bahkan dalam waktu ini akan membuka cabang di daerah Batu Malang.
 
“Sekarang sedang proses kerjasama dengan salahsatu teman untuk membuka cabang di Batu Malang. Impian saya, nanti Banana Bread Shop akan hadir di Pasuruan, Sidoarjo, Gresik, hingga Bali. Mohon doanya,” harap Sukardi. (REM/RAP)

 

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Artikel Berhubungan