POSTED: 16 November 2018

Memohon restu kepada orangtua adalah wajib hukumnya bagi setiap anak. Tidak hanya saat pergi sekolah, pergi kerja, pergi keluar kota, dan untuk hal lainnya. Termasuk saat memulai usaha. Restu orangtua bisa dari ibu, ayah, atau keduanya. Dan restu orangtua adalah doa bagi setiap orang.

Seperti halnya Usaha Dagang (UD) Restu Ibu, UKM mie yang terletak di salah satu sudut Kota Surabaya. UD Restu Ibu yang sehari-harinya memproduksi mie dan kulit pangsit  sudah berjalan lebih dari setengah abad. Bahkan jauh sebelum pabrik Bogasari berdiri tahun 1971. 

“Usaha kami ini warisan dari nenek saya bernama Darsih dan sudah sejak tahun 1947. Dan dari dulu sampai sekarang produksinya di Jalan Undaan Kulon I nomor 7, Kecamatan Genteng, Surabaya,” ucap Fuat, cucu dari almarhum Darsih.

Neneknya memberanikan diri berjualan mie dengan hanya bermodalkan hobi masak dan doyan mencicipi masakan. Kala itu pembuatan mie pun masih tradisional dan menggunakan mesin seadanya. Berkat doa dan usaha yang gigih, perlahan mie buatan neneknya semakin dikenal banyak orang.

Di tengah perjalanan usahanya, putri nenek Darsih atau ibunya Fuat yang bernama Partie juga ikut aktif membantu. Puncaknya di tahun 2000 an, banyak permintaan mie dari penjual mie gerobak, pasar tradisional, hingga restoran-restoran.  Seturut meningkatnya permintaan pasar, merek menjadi hal penting. Namun sayangnya, merek “Restu Ibu” sudah ada yang mempatenkan. Akhirnya nama UD Restu Ibu tetap dipertahankan sebagai nama usaha, sedangkan merek produk memakai nama “Mie Rami” yang artinya mienya ramai.

Tahun 2016, sang nenek yang saat itu berusia 95 tahun dipanggil Yang Maha Kuasa . Dan tak lama, atau hanya selang 1,5 bulan, ibunya Fuat yang berusia 51 tahun, juga berpulang ke pangkuan Sang Khalik. Beruntung Fuat semasa SMA sudah sering ikut membantu produksi. Sarjana Administrasi Bisnis Universitas Pembangunan Nasional Surabaya inilah yang sekarang meneruskan usaha neneknya.

Sebagai generasi ke tiga, pria kelahiran 1985 ini meneruskan UD Restu Ibu, bersama adiknya, Agung Sugiarto. Sang adik yang masih muda, kelahiran 1994 juga sarjana Teknik  Sipil Universitas Kristen Petra. Kedua sarjana kakak beradik ini tidak sekadar meneruskan. Mereka pun mulai melakukan inovasi.

“Saat ini terdapat dua variasi mie yaitu mie bulat dan mie gepeng. Sehingga costumer dapat lebih mudah membuat mie goreng ataupun mie kering,” papar Fuat yang sudah memiliki 3 anak dari buah pernikahannya dengan Yulie Surya Anesti.

Dalam sehari, produksi Mie Ramie  bisa mencapai 250 – 300 kg dengan menggunakan terigu Bogasari merek Cakra kembar sebanyak 15 – 20 sak per hari. Atau sama dengan 15 ton per bulannya. Sementara untuk pembuatan kulit pangsit menggunakan terigu Lencana Merah rata-rata sebanyak 5-10 sak per hari atau maksimal sekitar 7,5 ton per bulannya. Dan sudah lebih dari 10 tahun, Mie Rami dijual juga di beberapa swalayan besar “Giant” yang di Surabaya dan Sidoarjo.

Saat ini UD Restu Ibu memiliki 12 karyawan. Sebanyak 5 orang dibagian produksi, 5 bagian pengemasan, dan 2 orang untuk ekspedisi. Produksi dimulai jam 7 pagi hingga jam 6 sore. Salah satu kiat untuk mempertahankan usaha tiga generasi yang sudah lebih dari 50 tahun ini adalah menjaga kualitas mulai dari bahan terigu yang digunakan. Dan UD Restu Ibu pernah meraih penghargaan Bogasari SME Award 2012 sebagai “Best Achievment” untuk kategori Gold.

“Dulu nenek selalu menggunakan terigu Bogasari. Jika tidak menggunakan terigu Bogasari, resepnya tidak akan berhasil. Karena itulah kami tidak berani pindah ke terigu lain dan Bogasari selalu di hati,” kata Fuad sembari tersenyum. (REM/RAP)

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Artikel Berhubungan