POSTED: 06 Maret 2019

Akibat krisis meneter dan kerususan tahun 1998, usaha Nata Hamidjadja bangkrut. Ia pun  memilih pulang ke kampong halamannya, Wonosobo untuk belajar membuat Bika Ambon dari mertuanya. Alhasil setelah 17 tahun, Nata pemilik “Larizo Bakery” berhasil memiliki 350 karyawan. Keberhasilan itu pula yang mengantarnya menjadi nominator Bogasari SME Award 2018 Kategori Gold.

Peristiwa kerusuhan tahun 1998 menyisakan kenangan buruk bagi banyak orang. Termasuk para pelaku usaha, seperti Nata yang saat itu merupakan pemasok makanan kering ke sejumlah swalayan. Semua tagihan pembayaran ke swalayan tidak bisa bisa dilakukan.

Tapi pria lulusan sekolah pelayaran tahun 1984 ini tidak mau menyerah dan terus dirundung kesedihan. Setelah belajar dari mertua di kampung, tahun 2001 ia pindah ke Yogyakarta dan buka usaha cake dengan modal Rp 10 juta. Kala pertama produksi, ia hanya memakai 10 kg tepung terigu Cakra Kembar per hari .  Saat itu ia dibantu istrinya bernama Wulantika (57) dan 2 karyawan.

Tiga tahun berjalan, Nata mulai memakai merek “Larizo” yang mengandung harapan agar usahanya segera laris. Ia pun memasang plang nama toko dengan tulisan “Ya Larizo”.  “Tujuannya biar lebih menarik dan cepat laris,” ucap pria kelahiran Solo 26 November 1962 itu.

Seiring berjalannya waktu, usahanya pun terus berkembang. Tahun 2006 meningkat menjadi 80 kg per hari, lalu tahun 2011 menjadi 160 kg per hari dan seterusnya. Guna mengimbangi peningkatan usaha, Nata dan 1 karyawannya belajar di Bogasari Baking Center (BBC) Yogyakarta.

Alhasil usahanya terus berkembang sampai sekarang. Bahkan sudah memiliki karyawan sebanyak 350 orang. Sebanyak 150 orang merupakan karyawan toko dan 200 orang lagi di bagian produksi. Total outlet-nya 18 dan tersebar di Yogyakarta dan Jawa Tengah.  Total omzet per hari seluruh outlet Rp 150 juta

Nata tak hanya berhasil menambah karyawan, tapi juga mencetak anak sulungnya  Sebastian Jonatahan yang baru berusia 26 tahun sebagai penerus. Pemuda lulusan S-1 Business Administration, National Taiwan Normal University itu saat ini sudah menjadi Manager Operasional Larizo Bakery. Sementara si anak sulung, Samantha Pramudita lebih membantu riset pengembangan produk. 

Selain roti, andalan lain Larizo Bakery adalah Bika Ambon.  Alasannya Bika Ambon merupakan kue tradisional yang peminatnya cukup banyak dan tidak musiman.  Di awal tahun 2019, produk Bika Ambon Larizo Bakery sudah memiliki 7 rasa yaitu original, keju, kismis, gula jawa, pandan, green tea, dan caramel. Sedangkan varian roti ada puluhan.

Semua produk dari Larizo Bakery memakai bahan yang 100% natural. Misalnya, warna kuning pekat pada Bika Ambon dihasilkan dari banyaknya kuning telur yang dipakai.  Dalam 1 hari, pembuatan Bika Ambon menghabiskan 1,5 – 2,5 ton telur. Sedangkan untuk rasa-rasa seperti pandan dan green tea, memakai daun suji dan daun teh hijaunya langsung. Bukan menggunakan perisa makanan.

Selain bahan natural, Larizo Bakery juga memastikan produk buatannya selalu fresh from the oven, karena roti yang tidak laku pada hari itu langsung diolah menjadi pakan ternak. Sedangkan untuk limbah daun suji, daun pandan, daun jeruk dan sejenisnya  akan dikeringkan lalu dijadikan pupuk.

Dalam menjalankan usaha, Nata berprinsip untuk disiplin dalam menjaga cash flow. Tidak boleh ada utang. Setiap pengambilan barang di outlet dan dari pemasok harus segera bayar. “Hal ini dilakukan karena usaha ini dibangun dengan prinsip Built to Bless. Usaha ini dibangun dengan harapan dapat memberkati dan menyejahterakan semua pihak yang terlibat. Baik pelanggan, pekerja, pemilik, maupun pemasok bahan baku,” ucap  Nata. (EGI/RAP)

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Artikel Berhubungan