POSTED: 14 Agustus 2018

Siapa yang suka mie ayam? Masyarakat Indonesia tak asing dengan panganan sederhana yang satu ini. Pedagangnya pun tak sulit kita temui, ada banyak sekali mulai dari yang mewah sampai di pinggir jalan. Namun jangan salah, dari semangkuk mie ayam sederhana, ada rezeki luar biasa yang datang. 

Salah satu pedagang yang menjemput rezeki dari berjualan mie ayam adalah Johanes Baptista Samino atau biasa dipanggil Samino yang sudah berjualan mie ayam sejak tahun 1977, terhitung sudah 41 tahun. Pria yang lahir di Wonogiri 57 tahun silam ini awalnya merantau ke Jakarta karena diajak oleh saudaranya untuk berjualan mie ayam. Saat itu, pengetahuannya seputar mie ayam masih nol karena tugasnya hanya melayani pembeli saja. 

Setelah 2 tahun ikut saudaranya berjualan mie ayam, Samino memutuskan menikah, walaupun keadaan ekonominya pun bisa dikatakan masih sulit saat itu, tapi ia memiliki rencana untuk memiliki usaha mie ayam sendiri bersama istrinya, Natalia Sumarni. Samino pun minta diajarkan cara membuat mie mentah dan cara meracik mie ayam yang benar kepada saudaranya. Di tahun 1981, Samino dan istri memutuskan untuk memiliki usaha mie ayam sendiri dan dengan bermodalkan gerobak pinjaman dari saudaranya, Samino berjualan di daerah Bendungan Hilir.

Perlahan tapi pasti, usaha mie ayam Samino dan istri semakin berkembang dari tahun ke tahun, bahkan ia sempat membantu beberapa rekannya dari kampung untuk berjualan mie ayam di Jakarta. Berawal dari konsumsi terigu hanya 20 kg nya per hari, Samino terus meningkatkan usahanya dengan menghabiskan 20 zak terigu per harinya. Citarasa mie ayamnya pun sudah dikenal enak dan banyak pelanggan dari daerah lain yang khusus datang ke Mie Ayam Samino untuk merasakan mie ayam buatannya.

Mengalami Musibah

Layaknya roda yang sedang berputar, dimana Samino dan istri sedang merasakan kesuksesannya berjualan mie ayam di Benhil, di tahun 1994 pabrik mie dan tempat usaha mie ayamnya ludes di lalap si jago merah. Rumah dan seluruh mesin produksi mie nya hangus terbakar. Bersama dengan keluarganya, Samino mengungsi di rumah susun sekitar rumahnya dulu sebagai pengganti lokasi tempat tinggal yang terbakar.

Tinggal di rumah susun membuatnya tidak dapat kembali meneruskan usaha mie ayamnya karena lokasi yang sempit dan padat penduduk tidak memungkinkan memproduksi mie dan berjualan mie ayam. Selama setahun pula ia dan istrinya menganggur sampai pada akhirnya ia memutuskan pindah agar dapat kembali meneruskan usahanya yang sempat terbengkalai.

Pada tahun 1995, ia pun menjual rumah susunnya dan uang hasil penjualan digunakan membeli bangunan di daerah Ciledug, tempat tinggalnya hingga saat ini. Sikap pantang menyerah dan semangat dari keluarganya membuat Samino kembali bangkit dari keterpurukan. Ia pun memulai produksi mie ayamnya mulai dari nol. Dibantu oleh istrinya, Samino merangkak mencari pelanggan baru di daerah Ciledug, sambil mencoba mengambil kembali pelanggan lamanya di daerah Bendungan Hilir. 

Meskipun Samino hanya lulusan Sekolah Dasar, kemauan yang kuat dan tekad yang besar dalam berusaha membawanya kepada kesuksesan sebagai pengrajin mie ayam saat ini. Saat ini Samino telah memiliki pabrik pengolahan mie mentah dengan ukuran yang lebih luas, 6 unit mesin mie yang setiap harinya mengkonsumsi 40 zak terigu cakra kembar dan memproduksi 600 kg mie segar, serta tempat tinggal yang besar. Yang lebih membanggakannya lagi, berkat dari usaha gerobak mie ayam, Samino berhasil menyekolahkan 2 orang anaknya hingga lulus universitas. Putrinya yang pertama saat ini bekerja di salah satu Bank terbesar di Indonesia, sedangkan putranya menjadi seorang dokter yang bertugas di Kepulauan Seribu.

Dalam menjalankan usaha mie ayamnya, Samino dikenal sebagai pribadi yang tidak pelit ilmu. Bahkan ia mengajarkan para karyawannya dan penjajanya untuk bisa memproduksi mie ayam sendiri sehingga mereka semua nantinya bisa berjualan sendiri dan bisa merasakan kesuksesan sebagai penjual mie ayam. Saat ini Samino memperkerjakan 9 orang karyawan untuk produksi mie mentah, memiliki 169 gerobak yang ia pinjamkan kepada para penjaja, dan 1 outlet mie ayam di dekat rumahnya.

“Saya selalu menanamkan kepada para karyawan dan penjaja mie ayam saya untuk nantinya mereka bisa memiliki usaha mie ayam sendiri karena saya tidak mau mereka selamanya ikut saya. Saya pun memberikan ilmu dan resep mie ayam secara gratis, tidak ada yang saya rahasiakan dari resepnya karena dulu saya dapatnya juga gratis makanya saya turunkan secara gratis juga kepada anak buah,” ujar pria murah senyum ini.

Tidak hanya kepada karyawannya saja Samino memberikan ilmunya. Ia kerap diminta untuk memberikan pelatihan membuat mie ayam dari beberapa paguyuban UKM kuliner yang ingin belajar membuat mie ayam. Dengan senang hati Samino memberikan resep dan cara membuat mie ayam yang enak dan disukai oleh konsumen.

Regenerasi

Di usianya yang semakin senja ini, Samino dan istri ingin agar usaha mie ayam yang terlah dirintis puluhan tahun lalu dapat terus berjalan bahkan semakin berkembang lagi. Samino pun membujuk anak pertamanya, Rosse Samara untuk melanjutkan tongkat estafet bisnis Mie Ayam Samino. Dan di tahun 2019 nanti, kepemimpinan usaha akan diserahkan langsung kepada Rosse untuk mengelola pabrik mie dan seluruh gerobak yang dimiliki saat ini. Tentunya Samino berharap agar anaknya mampu membawa usaha Mie Ayam Samino semakin sukses lagi.

 

“Perkembangan zaman menuntut banyak inovasi dan perubahan dalam usaha mie ayam, oleh sebab itu saya berharap anak saya mampu membawa bisnis ini lebih milenial lagi sesuai dengan perkembangan zaman saat ini,” sambungnya.

Menanggapi tanggungjawab yang akan dipikulnya mulai tahun depan, Rosse mengaku saat ini sudah menyiapkan rencana-rencana untuk mengembangkan usaha orangtuanya. Rosse ingin Mie Ayam Samino lebih dikenal oleh masyarakat Indonesia, oleh karenanya bukan tidak mungkin suatu saat Mie Ayam Samino memiliki outlet besar seperti Warunk Upnormal ataupun Bakmi Gajah Mada.

“Bersama dengan Bogasari, saat ini saya sedang mencoba melihat peluang untuk melebarkan bisnis mie ayam ke konsumen yang lebih milenial agar produk orang tua saya dapat dinikmati tidak hanya masyarakat Ciledug dan sekitarnya saja, tetapi yang di daerah lain juga mengenal Mie Ayam Samino,” tegas ibu satu anak ini.

Ia melihat regenerasi sangat penting untuk menopang bisnis keluarga, bahkan di kebudayaan orang timur sangat baik membantu orang tua, menghargai apa yang telah dirintis selama ini dan meneruskan supaya lebih baik. Rosse menjelaskan bahwa sudah bertahun-tahun orangtuanya memberikan pekerjaan dan penghasilan bagi banyak karyawan dan keluarganya, juga dari pelanggan dan penyupali bahan baku, hal ini tidak boleh berhenti dan harus diteruskan karena menyangkut hajat hidup orang banyak.

Untuk berkonsentrasi penuh melanjutkan usaha orangtuanya, Rosse pun memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya selama ini sebagai seorang banker. Ia tidak takut kariernya yang telah nyaman selama ini akan berhenti karena fokus mengurus usaha mie ayam.

“Menjadi penerus usaha bukanlah hal yang mudah. Butuh effort lebih untuk memperjuangkannya. Untuk itu saya pun memutuskan berkorban meninggalkan pekerjaan saya selama ini untuk mencapai tujuan tersebut,” ungkap perempuan kelahiran Jakarta, 25 September 1981 ini.

Rosse pun sangat meneladanai kedua orangtuanya yang telah sukses mengembangkan bisnis mie ayam hingga sebesar saat ini. Baginya tekat yang bulat, iman yang teguh, hubungan kekeluargaan yang sangat erat, dan semangat berbagi akan terus ia jalankan untuk terus menghidupkan Mie Ayam Samino di masa yang akan datang.***

2

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Artikel Berhubungan