POSTED: 19 October 2018

 

Ditinggal seorang ayah tentu sangatlah berat karena merupakan tulang punggung keluarga. Itulah yang dirasakan Yet Irawati ketika tahun 2010 sang ayah berpulang ke pangkuan Yang Maha Kuasa.Sebagai anak sulung, wanita kelahiran Cilacap, 15 September 1977 ini mendapat amanah untuk membantu ibunya menghidupi empat adiknya.

Singkat cerita, Yet pun meninggalkan pekerjaannya sebagai akunting di salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Ia memutuskan menekuni usaha penganan pia karena kebetulan keluarga besar ayahnya merupakan pengusaha kue pia. Mereka tersebar di beberapa kota, mulai dari Palembang, Jakarta, Tegal, dan Semarang.

“Paman saya- lah yang mengajari saya untuk membuat kue pia ini. Resep keluarga besar kami sama. Dan masing-masing sukses di daerahnya masing-masing. Saya pun memutuskan pindah ke Surabaya karena melihat pangsa pasar pia di sana masih belum ramai,” ucapnya.

Sebagai modal awal, Yet memakai tabungan hasil kerjanya selama di Jakarta sebesar Rp 150 juta. Mulai dari pembelian bahan awal, mobil untuk mengantarkan produk, dan biaya kontrak rumah di daerah Sidoarjo. Di awal usaha, karyawannya hanya 3 orang dan berasal dari warga sekitar kontrakan. Proses produksi pun pun masih manual.

Selesai produksi, Yet merangkap sebagai sales. Ia menawarkan produknya ke sejumlah minimarket. “Kalau diingat-ingat saat awal memasarkan produk Pia Bulan, sedih rasanya karena banyak tempat yang menolak produk saya. Tapi tekad saya sudah bulat di bisnis ini maka saya terus mencari tempat yang mau menerima Pia Bulan. Hasilnya sekarang hampir seluruh minimarket lokal di wilayah Jawa Timur sudah terdapat produk Pia Bulan di dalamnya,” ucap perempuan lulusan STIE YAI Jakarta ini.

Kini dalam sehari Yet rutin memproduksi  1.000 – 1.500 bungkus kue pia. Kue pia tersebut dipasarkan dengan harga jual Rp 6.000 hingga Rp 15.000 per kemasan. Kemasan ekonomis dijual ke pasar tradisional, sedangkan kemasan mika dan kardus dipasarkan ke minimarket lokal yang ada di seluruh kota di area Jawa Timur. Hal tersebut yang membuat Pia Bulan sudah dikenal oleh masyarakat di Jawa Timur. Dan meski baru berjalan 8 tahun, omzet Pia Bulan sudah di atas Rp 200 juta per bulannya.

Pia Bulan menggunkan bahan baku terigu Segitiga Biru dan Lencana Merah sebanyak 3 hingga 6 sak per hari. Yang dulu hanya dibantu 3 karyawan kini sudah 10 karyawan. Proses produksi sudah menggunakan mesin pengaduk adonan dan mesin cetak dengan teknologi yang cukup modern. Ia juga berhasil memiliki lahan baru untuk penambahan tempat produksi. Lokasi Pia Bulan saat ikni di Trosobo Utama Blok B Nomor 2, Sidoarjo.

Dengan latar belakang akademik di bidang pemasaran, Yet fokus menggarap bisnis Pia Bulan seorang diri. Ia sengaja membidik pasar menengah ke bawah. Strategi ini terbukti benar. Pasar menengah ke bawah yang sangat besar saat itu berhasil mendongkrak omzet Pia Bulan.

Saat ini Pia Bulan tersedia dengan 3 varian rasa, yaitu kacang hitam, kacang hijau, dan keju. Rencananya akan menambah varian rasa cokelat dan rasa yang lainnya. Uhtuk rasa, Yet menjamin Pia Bulan tidak kalah dengan kue pia lainnya yang harganya jauh lebih mahal dari harga yang ia berikan.

Salah satu rahasia sukses Pia Bulan adalah selalu mengutamakan kualitas produk. Baginya kenaikan harga bahan baku bukan berarti harus mengurangi kualitas dan rasa. “Tidak masalah kalau keuntungan agak sedikit menurun, yang paling penting pelanggan tidak kecewa. Dan untuk terigu dari dulu saya pakai produk Bogasari,” tegasnya. (DIK/RAP)

 

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Related Artikel