POSTED: 11 June 2018

Dua setengah tahun silam, di pinggiran Jalan Gatot Subroto,  Rina Jun menjajakan roti-roti kecil. Wanita yang pernah kuliah di Australia ini melawan teriknya matahari untuk meyakinkan kalau roti buatannya layak dibeli. Hanya dalam waktu 3 bulan, di jalur lintas Medan menuju Aceh ia akhirnya berani mengambil keputusan besar. Membuka usaha bakery.

 
Produk yang dijual selama di pinggir jalan adalah roti kelapa, roti coklat keju, roti pisang. Lalu berkembang dengan roti tawar, cookies, dan terakhir bolu chiffon. “1 bulan pertama saya buka 1 tenda. Di bulan ke-2 jadi 2 tenda dan sampai bulan ke-3 tambah 1 tenda lagi. Ternyata banyak yang suka roti buatan saya,” kenang Rina dengan wajah tersenyum.
 
Ibarat peribahasa “pucuk di cinta ulam tiba”. Memasuki bulan ke 4 di tahun 2016, usaha pabrik baja milik ayahnya berekspansi ke tempat lain, tapi masih di Kota Medan. Wanita kelahiran 28 Maret 1976 ini pun mengubah bangunan eks pabrik baja milik ayahnya, Jun Han, menjadi toko bakery. Dan toko tersebut persis di lahan pinggir jalan raya tempat ia dulu menjajakan roti kecil.
 
Hanya sedikit orang yang tahu, kalau bangunan toko bakery milik Rina bernama Jawara Bakery adalah eks pabrik baja. Tidak hanya unik dari tampilan luar, ruangan di dalam pun menarik untuk berfoto. Kalau istilah “zaman now” toko Jawara Bakery sangat instagramable. Makanya disediakan sejumlah kursi dan meja bila pembeli ingin santai sejenak menikmati aneka roti, bolu dan kue kering Jwara Bakery sembari nyeruput berbagai minuman hangat.
 
Rina memang tergolong wanita yang unik dan suka belajar. Di Australia ia mengambil jurusan banking dan finance. Ia kemudian bekerja di salah satu bank swasta. Setelah itu ikutan usaha franchise bakery selama 6 tahun. Merasa kurang puas, ia kemudian coba menekuni usaha orangtuanya selama 7 tahun, hingga akhirnya memutuskan buka usaha bakery sendiri.
 
“Saya memilih usaha ini karena benar-benar suka. Makanya selama 1,5 tahun saya berlatih di Bogasari Baking Center (BBC). Banyak hal yang saya pelajari di BBC dan semuanya sangat bermanfaat, makanya saya berani buka usaha bakery,” ucap Rina.
 
Di awal usaha, Jawara Bakery hanya memiliki 2 karyawan. Terigu yang dipakai hanya 2 kilogram sehari dengan mereka Cakra Kembar. Namun setelah 2 tahun lebih berjalan, kini Rina Jun dibantu 23 karyawan di bagian produksi dan 9 orang lagi untuk melayani di toko. Sehari-harinya Jawara Bakery memproduksi roti dan kue kering, masing-masing sebanyak 30 varian, ditambah 12 varian bolu. Untuk produksi roti Jawara Bakery memakai terigu Cakra Kembar, kue kering pakai Kunci Biru dan Segitiga Biru untuk produk bolu.
 
Pemilihan nama Jawara juga agak unik. Semula memang ingin menggunakan kata “juara”. Namun karena suaminya, Citro Budiono asal Tegal, Jawa Tengah coba diplesetkan menjadi “jawara”.  “Belakangan kami baru sadar kalau jawara itu artinya preman..ha ha ha,” ucap ibu dari 3 anak ini.
 
Bagi Rina, untuk menjalankan usaha bakery selain berlatih di BBC, juga berprinsip jangan takut gagal. Dan terbukti produk kue kering Jawara Bakery saat ini tersebar di sejumlah supermatket. Tidak hanya di Medan tapi sampai ke Aceh dan Pekanbaru. Agar semakin dikenal, Rina pun menggunakan media sosial untuk promosi. Baik facebook maupun instagrammenggunakan akun @jawara.id. (RAP)
0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Related Artikel