POSTED: 19 September 2018
Kue kering bagelen mungkin sudah akrab di lidah kita sebagai oleh-oleh khas Bandung. Kue kering yang terbuat dari tepung terigu dan diolesi roombutter itu mempunyai cita rasa yang istimewa. Namun, bagaimana dengan bagelen ganyong?
 
Di tangan Siti Solihah (52), bagelen tak hanya bisa dibuat dari tepung terigu, tapi juga menggunakan tepung ganyong. Tepung yang terbuat dari tanaman umbi. Dan penambahan tepung ganyong ini membuat bagelen memiliki tekstur yang padat dan lebih renyah. Rasanya tetap enak dan pastinya lebih sehat, karena ganyong memiliki kandungan serat tinggi dan bebas gluten.
 
Bagelen buatan Ely, sapaan akrab Siti Solihah, memiliki 10 varian rasa. Diantaranya rasa blueberry, keju, durian, pisang, mangga, tiramisu, cokelat, original, pizza, dan oreo. Untuk inovasi produk bagelen ganyong ini, ia menggunakan merek "Nanamie" yang diambil paduan nama kedua putrinya yakni Nana dan Remi.
 
Ely menekuni usaha kue dan pastry sejak 2001. Awalnya hanya memproduksi kue basah lalu dijual ke teman-temannya, tetangga, atau titip di warung serta perkantoran. Tahun 2006, Ely dapat pesanan besar dari salah satu perusahaan untuk acara khitanan missal. Hasil keuntungan ia belikan mixer dan modal pengembangan usaha.
 
Awal mula ketertarikan Ely merintis usaha adalah hobi memasak dan membuat kue. Sebelumnya ia adalah seorang guru SD. Setelah mundur dari profesi guru, ia kemudian memutuskan untuk terjun sebagai penguasaha kuliner. Namun sadar akan pengetahuan dan wawasannya di dunia baking masih sedikit, akhirnya berlatih di Bogasari Baking Center (BBC) Bandung untuk memperdalam teknik membuat kue dan roti. "Dulu saya mencoba semua jenis paket pelatihan di BBC, mulai dari mie, pastry, hingga roti. Tetapi yang diseriuskan hanya roti," papar Ely.
 
Dari berbagai varian roti yang dipasarkan, ia memutuskan untuk mengembangkan roti kering bagelen karena lebih lama masa kadaluwarsanya dibanding roti manis. Dan saat mengikuti acara yang digelar Pemerintah Jawa Barat, Ely menemukan tepung lokal ganyong.  
 
Melalui beragam eksperimen, ternyata ganyong dapat dipakai untuk membuat bagelen meski harus dicampur dengan tepung terigu. “Saya tetap menggunakan tepung terigu, tetapi dicampur dengan tepung ganyong. Komposisinya 60 persen terigu dan 40 persen ganyong,” ungkap Elly.
 
Ganyong ternyata juga berguna untuk mengurangi pemakaian telur dalam adonan. Selain itu kandungan airnya yang sedikit membuat bagelen lebih awet dan tahan di toples hingga 1 tahun. Bahan baku tepung ganyong diperoleh dari pemasok di daerah Sumedang, Ciwidey, dan Majalengka.
 
Untuk bahan terigu, saya menggunakan Cakra Kembar dan tidak bisa pindah ke lain hati. Kualitasnya sudah saya percaya. Pernah nyoba terigu lain, tapi kualitas terigu lainnya juga beda. Selain itu, kalau kita perlu lagi, susah didapat,” ucap Elly.
 
Beredar Luas
Selain memiliki 6 karyawan, untuk produksi sehari-hari lebih banyak dikelola Nana, anak pertamanya yang sudah lulus dariSekolah Tinggi Pariwisata Enhai. “Saya hanya mengontrol produksi saja,” kata Elly.
 
Bagelen Ganyong Nanamie tidak hanya enak dimakan, tapi kemasannya juga menarik. Itulah karya sang suami yang pelukis dan anak ke-2 yang sedang kuliah di jurusan desain komunikasi visual.
 
Dulu usaha Ely hanya produksi 50 bungkus per minggu dengan pemakaian 7 kg terigu. Saat ini, produksi rata-rata per minggu sudah 4 kali lipat atau 200 bungkus. Pemasarannya melalui distributor, reseller, hingga swalayan besar seperti Lotte mart dan Carefour. “Bahkan pemasarannya sudah sampai ke Sumatera, Batam, Bali. Dan yang terakhir, kita sudah masuk ke Superindo di Sulawesi,” ungkapnya.
 
Awalnya pemasaran hanya dari mulut ke mulut. Seturut perkembangan teknologi, ia kemudian menggunakan jaringan promosi media sosial. Nanamie bahkan sudah melakukan penjualan e-commerce seperti Lazada dan Go-food. Wajar kalau Nanamie pernah mendapatkan penghargaan sebagai makanan camilan terbaik dari Menteri Perdagangan pada acara UKM Pangan Award 2012. Dari situlah bagelen ganyong pun berhasil tembus pasar Malaysia. Alhasil, 1 ton bagelen ganyong dikirim ke ke Malaysia hingga 1 ton untuk varian rasa coklat dan vanilla.
 
Setelah bagelen ganyong, Ely melakukan kreasi camilan lainnya. Kali ini tepung singkong sebagai bahan utama. Produk terbaru ini Stik Mocaf. Mocaf diambil dari kata “modifikasi cassa flour”, nama ilmiah dari tepung singkong.
 
“Kita menambahkan tepung singkong yang telah difermentasi dan diberi enzim dan dicampur dengan tepung terigu, sehingga menjadi stik. Kami pun terus berinovasi. Sekarang sedang melakukan eksplor untuk tepung sorgum, tunggu saja produknya,” ungkap Elly. (REM/RAP)
0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Related Artikel